Little Thoughts That Matter

Insights, Inspirations and Lingering Thoughts
It’s just me, the wind, the sea and the rising sun.

It’s just me, the wind, the sea and the rising sun.

Plumerias and the blue sky #sky

Plumerias and the blue sky #sky

Tentang Sanggar Sahabat Anak

Suatu minggu pagi pesawat Garuda Indonesia GA293 yang mengantarkan saya dari Jakarta mendarat di Bandar Udara Abdul Rachman Saleh, Malang. Udara panas langsung menghantam badan begitu saya turun dari pesawat, padahal kota ini terletak di pangkuan tiga gunung tinggi di Jawa Timur, yaitu Bromo, Semeru dan Arjuna. Mungkin nasib kota yang dijuluki Paris of the East Java ini sama dengan sister city-nya di Jawa Barat, yaitu kota Bandung, yang suhu udaranya semakin menguras keringat, efek negatif pembangunan yang semakin pesat.

Ya, kota kecil ini memang sedang menggeliat pertumbuhannya. Gedung-gedung beton semakin memakan ruang hidup manusia, termasuk anak-anak. Hal inilah salah satu alasan mengapa saya mengunjungi Malang suatu hari minggu, tepatnya mengunjungi tempat salah satu scholar saya mengadakan kegiatan sosial. 

Siang semakin terik ketika saya sampai di gang kecil tempat kegiatan tersebut dilaksanakan. Melewati rumah-rumah penduduk yang berhimpitan satu sama lain serta jalan kampung yang berbelit-belit, menuruni turunan curam hingga sampai pinggir Kali Metro, sampailah saya di Sanggar Sahabat Anak.

Dari bangunan semi permanen yang beratap asbes terdengar suar riuh rendah anak-anak menabuh gendang. Wah, ternyata kegiatan sudah dimulai. Sementara anak-anak memamerkan keahliannya bermain musik, saya dan scholar saya, Maya, berkenalan dengan kakak pengasuh Sanggar Sahabat Anak.

Sanggar Sahabat Anak ini didirikan tahun 1998 oleh sekelompok mahasiswa filsafat di Malang.

“Sanggar menyediakan wadah bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh-kembang bersama. Sanggar ini juga memfasilitasi kesempatan belajar alternatif bagi anak-anak yang putus sekolah.”, begitu jelas Kak Miki mengenai tujuan didirikannya sanggar. Memang letak sanggar yang di tengah pemukiman kumuh dan padat penduduk memberikan ruang bagi anak-anak untuk beraktifitas secara positif dan mencegah mereka untuk bermain di jalanan.

“Tujuan kami mendirikan sanggar ini tulus dengan niat membantu sesama,” lanjut Kak Miki, “namun karena kami mayoritas dari Flores, NTT, agak sulit bagi kami untuk berbaur dengan anak-anak, apalagi juga terkendala bahasa. Tidak semua anak-anak ini bisa berbahasa Indonesia, sedangkan kami pun tidak bisa berbahasa Jawa.”

Selain itu, karena beberapa kakak sanggar adalah mahasiswa filsafat di sekolah teologi di Malang, entah kenapa anak-anak ini jadi senang bertanya pada sukarelawan sanggar mengenai agama yang dianut kakak-kakak tersebut.

“Kami mencoba mengajarkan pada anak-anak untuk tidak bertanya mengenai agama -dan juga umur- kepada siapa saja yang datang. Kami khawatir ini malah menciptakan gap yang tidak perlu.”, jelasnya lagi. Benar saja, selama saya di sini, beberapa anak menanyakan mengenai hal itu. 

“Kakak agamanya apa?”, tanya gadis kecil itu, sebut saja namanya Mawar.

Saya jawab saja, “Memangnya kenapa?”

Gadis itupun tersipu malu, menutup senyum simpulnya dengan tangannya yang legam.

Saya yakin, di benak anak-anak yang masih polos ini tidak terpikirkan mengenai bahayanya stereotyping berdasarkan agama. Mungkin itu adalah ajaran orang tua mereka yang khawatir mengenai isu kristenisasi. Tapi toh, faktanya anak-anak sanggar ini memulai dan menutup aktifitas di sanggar dengan doa-doa Islami, jadi malah seharusnya di sini mereka belajar mengenai filosofi di balik Bhinneka Tunggal Ika.

Obrolan saya dengan Kak Miki terhenti karena acara akan dilanjutkan dengan kegiatan selanjutnya. Anak-anak sangat antusias mengikuti penyuluhan kesehatan gigi yang diadakan, bahkan sambil berebut sikat gigi yang dibagikan cuma-cuma. Ada yang ingin sikat gigi warna ungu, ada yang ingin warna biru, bahkan ada yang ingin dua. Lucu sekali tingkah polah mereka yang hanya dengan hal kecil seperti sikat gigi gratis, dapat membuat hati mereka gembira. Padahal belum tentu juga mereka tidak memilikinya di rumah, kan? 

Siang hari itu bermain bersama anak-anak Sanggar Sahabat Anak menyadarkan saya bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak hal untuk bahagia. The simplest things can make a child happy.

Tentang Sanggar Sahabat Anak

Suatu minggu pagi pesawat Garuda Indonesia GA293 yang mengantarkan saya dari Jakarta mendarat di Bandar Udara Abdul Rachman Saleh, Malang. Udara panas langsung menghantam badan begitu saya turun dari pesawat, padahal kota ini terletak di pangkuan tiga gunung tinggi di Jawa Timur, yaitu Bromo, Semeru dan Arjuna. Mungkin nasib kota yang dijuluki Paris of the East Java ini sama dengan sister city-nya di Jawa Barat, yaitu kota Bandung, yang suhu udaranya semakin menguras keringat, efek negatif pembangunan yang semakin pesat.

Ya, kota kecil ini memang sedang menggeliat pertumbuhannya. Gedung-gedung beton semakin memakan ruang hidup manusia, termasuk anak-anak. Hal inilah salah satu alasan mengapa saya mengunjungi Malang suatu hari minggu, tepatnya mengunjungi tempat salah satu scholar saya mengadakan kegiatan sosial.

Siang semakin terik ketika saya sampai di gang kecil tempat kegiatan tersebut dilaksanakan. Melewati rumah-rumah penduduk yang berhimpitan satu sama lain serta jalan kampung yang berbelit-belit, menuruni turunan curam hingga sampai pinggir Kali Metro, sampailah saya di Sanggar Sahabat Anak.

Dari bangunan semi permanen yang beratap asbes terdengar suar riuh rendah anak-anak menabuh gendang. Wah, ternyata kegiatan sudah dimulai. Sementara anak-anak memamerkan keahliannya bermain musik, saya dan scholar saya, Maya, berkenalan dengan kakak pengasuh Sanggar Sahabat Anak.

Sanggar Sahabat Anak ini didirikan tahun 1998 oleh sekelompok mahasiswa filsafat di Malang.

“Sanggar menyediakan wadah bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh-kembang bersama. Sanggar ini juga memfasilitasi kesempatan belajar alternatif bagi anak-anak yang putus sekolah.”, begitu jelas Kak Miki mengenai tujuan didirikannya sanggar. Memang letak sanggar yang di tengah pemukiman kumuh dan padat penduduk memberikan ruang bagi anak-anak untuk beraktifitas secara positif dan mencegah mereka untuk bermain di jalanan.

“Tujuan kami mendirikan sanggar ini tulus dengan niat membantu sesama,” lanjut Kak Miki, “namun karena kami mayoritas dari Flores, NTT, agak sulit bagi kami untuk berbaur dengan anak-anak, apalagi juga terkendala bahasa. Tidak semua anak-anak ini bisa berbahasa Indonesia, sedangkan kami pun tidak bisa berbahasa Jawa.”

Selain itu, karena beberapa kakak sanggar adalah mahasiswa filsafat di sekolah teologi di Malang, entah kenapa anak-anak ini jadi senang bertanya pada sukarelawan sanggar mengenai agama yang dianut kakak-kakak tersebut.

“Kami mencoba mengajarkan pada anak-anak untuk tidak bertanya mengenai agama -dan juga umur- kepada siapa saja yang datang. Kami khawatir ini malah menciptakan gap yang tidak perlu.”, jelasnya lagi. Benar saja, selama saya di sini, beberapa anak menanyakan mengenai hal itu.

“Kakak agamanya apa?”, tanya gadis kecil itu, sebut saja namanya Mawar.

Saya jawab saja, “Memangnya kenapa?”

Gadis itupun tersipu malu, menutup senyum simpulnya dengan tangannya yang legam.

Saya yakin, di benak anak-anak yang masih polos ini tidak terpikirkan mengenai bahayanya stereotyping berdasarkan agama. Mungkin itu adalah ajaran orang tua mereka yang khawatir mengenai isu kristenisasi. Tapi toh, faktanya anak-anak sanggar ini memulai dan menutup aktifitas di sanggar dengan doa-doa Islami, jadi malah seharusnya di sini mereka belajar mengenai filosofi di balik Bhinneka Tunggal Ika.

Obrolan saya dengan Kak Miki terhenti karena acara akan dilanjutkan dengan kegiatan selanjutnya. Anak-anak sangat antusias mengikuti penyuluhan kesehatan gigi yang diadakan, bahkan sambil berebut sikat gigi yang dibagikan cuma-cuma. Ada yang ingin sikat gigi warna ungu, ada yang ingin warna biru, bahkan ada yang ingin dua. Lucu sekali tingkah polah mereka yang hanya dengan hal kecil seperti sikat gigi gratis, dapat membuat hati mereka gembira. Padahal belum tentu juga mereka tidak memilikinya di rumah, kan?

Siang hari itu bermain bersama anak-anak Sanggar Sahabat Anak menyadarkan saya bahwa sebenarnya kita tidak perlu banyak hal untuk bahagia. The simplest things can make a child happy.

#sunset over Cemara Kecil #island (at Karimun Jawa Island)

#sunset over Cemara Kecil #island (at Karimun Jawa Island)

Glory glory morning glory. (at Karimun Jawa Island)

Glory glory morning glory. (at Karimun Jawa Island)

I love sitting on the seaside early morning just before sunrise, listening to the sound of waves, when it feels like the rest of the world is still fast asleep and I’m the only one who’s awake. I kind of forget all of my problems because for a moment there, there’s just me, the world and the rising sun.
#sea #travel #indonesia #aroundtheworld  (at Karimun Jawa Island)

I love sitting on the seaside early morning just before sunrise, listening to the sound of waves, when it feels like the rest of the world is still fast asleep and I’m the only one who’s awake. I kind of forget all of my problems because for a moment there, there’s just me, the world and the rising sun.
#sea #travel #indonesia #aroundtheworld (at Karimun Jawa Island)

#sunset beyond the trees (at Karimun Jawa Island)

#sunset beyond the trees (at Karimun Jawa Island)